Abu Bakar Ash-Shiddiq Khalifah Pertama Penerus Nabi

Siapa yang tak kenal dengan khalifah pertama yang merupakan sahabat karib Nabi Muhammad shallahu’alaihi wassalam bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Siapa beliau sebenarnya? yuk kita pelajari berbagai hal mengenai khalifah pertama ini.

Awal Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq

‘Abdullah merupakan nama asli Abu Bakar yang diberikan oleh orang tuanya. Abu Bakar merupakan sebuah nama kunyah sebelum datangnya Islam. Abu yang berarti bapak dan Bakar berarti unta muda.

Sama halnya dengan panggilan Abu Hurairah yang berarti bapak anak-anak kucing, panggilan Abu Bakar juga berarti bapak dari unta muda. Tidak ada riwayat yang mengatakan alasan mengapa Abu Bakar diberi kunyah demikian, atau boleh jadi kunyah tersebut diberikan kepadanya lantaran kebaikannya atau sayangnya ia kepada unta.

‘Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Bakar) lahir di Makkah sekitar tahun 573 M. Ia merupakan sahabat karib Nabi Muhammad SAW sejak sebelum Islam datang. Ia juga termasuk salah satu sahabat yang pertama memeluk Islam.

Setelah masuk Islam Abu Bakar memiliki gelar As-Shiddiq yang artinya terpercaya dan ‘Atiq yang artinya dermawan atau baik budi. Ayahnya bernama ‘Usman atau Abu Quhafah dan ibunya bernama Ummul Khair Salmah. Abu Bakar merupakan keturunan kabilah Bani Taim dari Suku Quraisy yang ternama.

Semua kalangan menghormati Abu Bakar karena moralnya yang tinggi dan luasnya pengetahuan maupun pengalamannya. Ia seorang dermawan, suka menolong orang susah, ramah tamah, dan penuh kejujuran.

Abu Bakar adalah seorang pedagang kain yang terkenal cukup kaya diantara orang Quraisy. Abu Bakar banyak membantu perjuangan dakwah Islam dengan kekayaannya tersebut.

Kondisi Masyarakat Sepeninggal Nabi

Nabi Muhammad SAW selain sebagai seorang Rasul atau utusan Allah, beliau juga merupakan seorang pemimpin pemerintahan dan pemimpin masyarakat. Posisi beliau sebagai seorang Rasul atau utusan Allah tidak dapat digantikan oleh orang lain setelah wafatnya.

Oleh karena itu sesaat setelah Nabi wafat terjadi kebingungan diantara umat muslim siapa yang akan menjadi penerus perjuangan Nabi sebagai pemimpin masyarakat sekaligus pemimpin pemerintahan.

Abu Bakar Terpilih Sebagai Khalifah

Sesaat setelah wafatnya Nabi, persoalan pertama yang mencuat ke permukaan ialah perihal kepemimpinan. Hal ini karena semasa hidupnya Nabi Muhammad tidak pernah membicarakan dan menunjuk siapa yang berhak meneruskan kepemimpinanya dalam politik pemerintahan maupun masyarakat.

Oleh karena itu, diadakanlah musyawarah untuk memilih pemimpin di Balai Pertemuan Bani Sa’idah. Saat musyawarah tersebut kaum Anshar mencalonkan Sa’ad bin Ubadah dan kaum Muhajirin, Umar mencalonkan Abu Bakar.

Musyawarah berjalan panjang, masing-masing kalangan mengemukakan argumennya dan saling berdebat. Hingga akhirnya terpilihlah Abu Bakar secara aklamasi sebagai Khalifah pertama penerus perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Baca: Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Makkah

Pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sistem pemerintahan masih mengacu pada sistem yang pernah diterapkan ketika masa Nabi yakni bersifat sentralistik. Kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif berada pada kewenangan seorang khalifah.

Salah satu faktor penyebab sistem pemerintahan Abu Bakar masih mengadopsi sistem pemerintahan masa Nabi dan belum banyak mengalami perubahan pembangunan ialah masa pemerintahan yang sangat singkat. Dan juga banyak terjadi kekacauan serta konflik di berbagai wilayah selama pemerintahannya.

Kebijakan Khalifah Abu Bakar

Keadaan masyarakat Arabia di berbagai wilayah menjadi kacau balau dan gejolak pemberontakan terjadi dimana-mana setelah kepergian Rasulullah. Abu Bakar sebagai khalifah yang saat itu menghadapi situasi dan kondisi masyarakat membuat kebijakan sebagai berikut.

1. Mengatasi berbagai pemberontakan

Abu Bakar sebagai khalifah pertama penerus perjuangan Rasulullah SAW menghadapi berbagai goncangan politik keagamaan. Ia harus menghadapi pemberontakan dari kaum murtad, memberantas Nabi palsu dan kaum yang enggan membayar zakat.

Mulanya Abu Bakar dalam mengatasi masalah ini mengajak mereka kembali ke ajaran Islam yang benar dengan mengirim surat. Namun usaha tersebut tidak mendapatkan respon positif bahkan mereka menunjukkan penentangannya.

Kemudian Abu Bakar membagi pasukan dalam sebelas batalion untuk dikirim ke berbagai wilayah guna memadamkan api pemberontakan dari akar hingga cabangnya. Dan Abu Bakar mengemban tugas sebagai panglima Madinah sebagai markasnya.

Sebelumnya Abu Bakar mengumumkan kepada setiap komandan untuk bersikap moderat dan bijaksana sebelum memutuskan perang. Mereka harus mengajak kaum pemberontak kepada Islam. Mereka juga harus menahan pertempuran bila kaum pemberontak menanggapi undangannya dan boleh meluruskannya dengan peperangan apabila mereka melakukan penolakan.

Baca juga: Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Madinah

Khalid bin Walid salah satu panglima pasukan muslim berhasil membersihkan doktrin para nabi palsu seperti Aswad Al-Ansi dan Musailamah yang tewas terbunuh dalam peperangan. Sedangkan tokoh nabi palsu lainnya seperti Saj’ah dan Thulaihah selamat dan bertaubat.

Pasukan Khalid bin Walid beserta pasukan Ikrimah dan Syurahbil setelah berhasil memberantas para nabi palsu melakukan peperangan melawan kaum murtad di Bahrain, Yaman dan Hadhramaut. Kaum murtad yang saat itu dibantu oleh Persia juga berhasil ditumbangkan.

Abu Bakar juga menerapkan sikap yang sangat ketat dan tegas kepada seluruh kabilah dan kaum yang enggan membayar zakat. Hal ini dilakukannya demi tujuan pembangunan bangsa.

Abu Bakar dengan sekuat tenaga menahan gerakan anti zakat dengan menerbitkan ultimatum kepada semua kabilah. Mempermaklumkan perang kepada mereka yang tergabung dalam gerakan tersebut hingga mereka membayarnya dengan benar. Dan jika mereka menolak sama dengan mereka melakukan pemberontakan.

2. Pengumpulan Al-Qur’an

Nabi memperoleh wahyu Al-Qur’an secara berangsur selama beberapa tahun. Saat suatu surat atau ayat turun kepada Nabi, para sekretaris akan melakukan penulisan dan beberapa menghafalkannya dalam ingatan.

Nabi akan menunjukkan di surat apa dan di konteks mana ayat atau surat harus disisipkan kepada sekretaris yang bertugas mencatat wahyu. Sehingga susunan ayat dan surat dalam mushaf Al-Qur’an yang kita ketahui kini benar-benar merupakan susunan asli yang diatur dan diarahkan oleh Nabi sendiri.

Baca Juga: Makna Makkiyah Dan Madaniyah Dalam Al-Qur’an

Setelah kepergian Nabi, satu-satunya perkara yang belum dilakukan adalah menjadikan berbagai manuskrip Al-Qur’an tersebut dalam satu jilid. Pengerjaan pengumpulan Al-Qur’an ini hanya bisa dilakukan setelah Nabi wafat dimana Al-Qur’an telah diwahyukan secara keseluruhan.

Banyaknya para hafidz Al-Qur’an yang gugur sebagai Syuhada’ di perang Yamamah melawan para nabi palsu, Umar mengingatkan Abu Bakar untuk mengumpulkan semua bahan yang mengandung manuskrip ayat Al-Qur’an dan menjadikannya satu jilid.

Khalifah mempercayakan karya penting ini kepada Zaid bin Tsabit yang telah mencatat sebagian besar surat Madaniyah. Zaid kemudian berhasil mengumpulkan dalam satu jilid bagian ayat-ayat Al-Qur’an yang dituliskan di daun kurma, kertas, dan kulit serta dari ingatan para penghafal Al-Qur’an.

3. Konflik dengan Kekaisaran Romawi dan Persia serta Perluasan Wilayah Islam

Setelah berhasil menghancurkan semua kekuatan pengacau dan pergolakan di berbagai wilayah, Khalifah Abu Bakar mengarahkan dirinya memperkuat perbatasan dengan Persia dan Syria.

Tindakan Abu Bakar tersebut didasari karena dalam pemberontakan kaum murtad di Bahrain mereka dibantu oleh Persia. Dan hal tersebut mengindikasikan tindakan permusuhan terbuka dan pengumuman perang oleh Persia terhadap Arabia.

Oleh karena itu, sebagai upaya antisipasi bahaya dari perbatasan Persia dan Syria serta sebagai upaya pembelaan diri, Arabia melakukan berbagai ekspedisi di perbatasan wilayah Kekaisaran Persia dan Kekaisaran Romawi di Syria.

Dalam ekspedisi tersebut Khalid bin Walid memimpin pasukan muslim dan pertempuran pertama antara Muslim dan Persia ini terjadi di Hafir. Dalam pertempuran ini Persia berhasil dikalahkan dan pertempuran ini dikenal sebagai Dhat Al-Salasil atau perang rantai.

Khalid juga berhasil memenangkan berbagi pertempuran lain dan berhasil merebut Hirah yakni ibu kota kekaisaran Persia. Hal itu menyebabkan pemerintah Kristen menyerah dan mengadakan traktat dengan kaum muslimin dan setuju mengalihkan penghormatannya kepada Arabia.

Sementara itu pasukan muslim di perbatasan Syria berhasil meraih kemenangan atas pasukan Romawi dibawah komando Khalid bin Sa’id dan dibantu Khalid bin Walid. Pertempuran tersebut terjadi pada tanggal 28 Jummadil Awwal 13 H di Ajnadain.

Heraclius pemimpin pasukan Romawi lari ke Antaqiyah dan Pasukan muslim masih terus melaju hingga Damaskus. Sayangnya berita kemenangan di Ajnadain mencapai Madinah saat Abu Bakar sedang menghadapi saat-saat terakhir menjelang wafatnya.

Wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq

Pada tanggal 7 Jumadil Akhir tahun 13 H, Abu Bakar jatuh sakit dan wafat pada hari Selasa, 22 Jumadil Akhir 13 H atau 23 Agustus 634 M. Abu Bakar dimakamkan disamping sahabat dekatnya dan guru tercintanya Rasulullah Muhammad SAW di rumah putrinya Aisyah yang juga seorang istri Nabi.

Abu Bakar Ash-Shiddiq menjabat sebagai khalifah pertama yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW untuk agama maupun bangsanya. Saat menjadi khalifah Abu Bakar berhasil mengatasi berbagai konflik politik maupun keagamaan. Ia juga berhasil mengendalikan laju pemerintahan berkembang maju hanya dalam kurun waktu dua tahun satu kuartal.

Baca Juga: Kepemimpinan Islam Pada Masa Umar Bin Khattab

Barangkali dari kepemimpinan khalifah Abu Bakar kita bisa belajar tentang ketegasan, keberanian serta ketekunan dalam sebuah pengabdian. Ia mengabdi tanpa pamrih kepada agama dan juga negeri. Ia seorang pemberani yang bijak yang tahu kapan dan bagaimana ia harus bertindak. Ia juga tegas kepada rakyat yang menginginkan bebas.

Bagikan Artikel melalui :