Ayah, Dengarkan Curhatku

Ayah, Dengarkan Curhatku – Puisi Islami Menyentuh Tentang Ayah

Diposting pada

Berikut ini adalah puisi menghayutkan tentang ayah oleh Ustadz Hamdan Kurniawan Zega.

Ayah…

Apakah engkau tau apa yang terjadi setelah kepergianmu?

Apa yang menimpaku setelah 10 tahun meninggalkan kami?

Engkau tahu wahai ayah,
Sudah ribuan luka diri ini rasakan.

Ratusan lisan dengan kata-kata yang menyakitkan menusuk dada.

Beban berat harus ditopang oleh bahu yang sangat rapuh ini.

Semua permasalahan harus ku tanggung sendirian.

Aku hanya menangis seorang diri dalam menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.

Tiada tempat untuk mencurahkan rasa. Tiada tempat untuk melabuhkan pengaduan.

Mohon maaf wahai ayah…

Curhatan kali ini terlalu berat dan begitu dalam.

Bukannya aku tidak mengetahui akan curhatan langsung kepada Rabbku. Sebagaimana Nabi Ayyub ayahnya Yusuf mengadu kepada Rabbnya dengan perkataan,

إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

Tentu disetiap sujudku, aku mengadu kepada-Nya.

Berusaha berbaik sangka akan semua ujian yang Ia timpakan atasku.

Yang dengannya kembali menguatkan hati yang patah berulang.

Dan membendung air mata yang seakan tak tertahankan.

Mengokohkan kaki yang seakan tak lagi bersemangat dalam melangkah.

Namun, diriku tetaplah manusia.

Yang butuh kepada sesamanya.

Saat ini diriku benar-benar rapuh.

Diri ini merasa semua jalan telah tertutup.

Langkah kaki semakin berat, tiada tempat untuk dituju.

Aku rapuh wahai ayah…

Aku merasa tidak kuat dengan semua beban ini.

Dengan semua cobaan hidup yang tengah kuhadapi.

Aku ingin menangis di dadamu dan menceritakan segala curhatan yang menyesakkan dada.

Segala yang telah aku alami.
Aku berharap belaian tanganmu di kepalaku.

Dan menenangkanku dengan kata-kata sejuk yang keluar dari lisanmu.

Aku tau ini hanyalah hayalan semu dan harapan yang tak akan pernah terjadi.

Aku hanya ingin kembali mengenang masa bersamamu, agar rasa cinta tetap merekat di dalam hati.

Aku tak tau harus curhat kepada siapa. Aku tak tau harus mengadu kepada siapa.

Tak mengapa wahai ayah…

Tak perlu engkau khawatir.

Diri ini baik-baik saja.

Aku hanya sedang merindukanmu.

Sebagaimana rasa rindu seorang anak kepada ayahnya yang telah lama ditinggal pergi.

Meskipun mata ini berurai air mata ketika menulis curhatan ini untukmu.

Engkaulah cinta yang tak akan pernah tergantikan dalam lubuk hati ini.

Terimakasih atas segala perjuangan dan pengorbananmu selama ini.

Atas tetesan keringat dan air mata yang mengucur dari matamu.

Dalam perjuanganmu mencari nafkah menghidupi buah hatimu.

Engkau adalah ayah yang hebat dimataku.

Sosok terbaik yang pernah Allah kirimkan dalam kehidupanku.

Aku akan bangga menceritakan kisahmu kepada anak-anakku kelak.

Menceritakan bahwa mereka mempunyai seorang kakek yang sangat mencintai keluarganya.

Mengajak mereka berziyaroh ke makammu dan mendoakan pengampunan dari Rabb yang Maha Pengampun kepadamu.

Ayah…

Aku telah berusaha menjadi anak yang berbakti meskipun engkau telah tiada.

Aku berusaha menjadi anak yang shalih, karena itu menjadi syarat agar doaku atasmu diterima oleh Rabbku.

Aku mendoakan pengampunan atasmu disetiap sujudku.

Berharap setiap amal shalih yang aku lakukan, engkau juga mendapatkan pahalanya.

Berharap setiap huruf dari bacaan Al-Qur’an yang lisanku baca, menjadi pengampunan atas dosa- dosamu.

Disebabkan nafkah yang engkau berikan, menembus setiap sisi sendi di dalam tubuh ini.

Ayah, terlalu banyak yang ingin aku curhatkan. Sekali lagi, maafkan anakmu atas curhatan ini.

Sesungguhnya seseorang hanya akan mengadu kepada yang ia cintai.

Semoga engkau berbahagia disisi Allah yang Maha Pengampun.

Dari anakmu yang merindukanmu.

Avatar
Founder and CEO pusilpen.online, pusatilmupengetahuan.com, saintek.id Playmaker dewicookies.com, nusacharity.org, qothrunnadaa.com, etc...