Al-Qur'an

Belajar Makna Aqidah dari Seorang Muallaf

Diposting pada

Pada kesempatan ini kita akan belajar makna aqidah dari seorang muallaf.

Agama merupakan sebuah sebuah keyakinan, pandangan dunia dan sistem budaya yang menghubungkan orang-orang dengan tatanan atau urutan kehidupan.

Begitu banyak agama yang mempunyai narasi, simbol maupun sejarah suci yang ditujukan untuk menjelaskan berbagai makna hidup dan alam semesta atau asal usul dari kehidupan.

Beragama merupakan hak bagi setiap manusia sebagai wujud kesadaran diri. Siapa pun tidak boleh memaksakan agama kepada orang lain, termasuk orang tua kepada anaknya, mereka harus memiliki hak dan kewajiban untuk saling menghormati keputusan dan jalan hidup masing-masing.

Jika seseorang melakukan peribadatan tanpa didasari keyakinan dan keikhlasan karena keterpaksaan psikologis, moral maupun material maka jiwanya tidak memiliki ketenangan.

Di dalam kehidupan ini kita mungkin memiliki banyak sekali pertanyaan didalam benak pikiran kita, tak terkecuali mengenai Tuhan Sang Pencipta. Banyak pertanyaan yang muncul dan belum menemukan jawabannya.

Beberapa orang menyakini bahwa agama dan Sang Pencipta merupakan sesuatu yang sakral dan tidak perlu dipertanyakan dan diragukan lagi. Tapi sebagian yang lain masih kebingungan dan tidak memiliki arah mengenai apa yang harus mereka pilih sebagai agama untuk tuntunan kehidupan mereka.

Kemudian, sebagian orang yang sedang kebingungan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka.

Mereka mencoba membaca buku, bertanya pada sang ahli atau berbagai hal lainnya. Tujuannya tidak lain adalah agar mendapat ketenangan dan mengatasi keragu-raguan mereka.

Disuatu titik kehidupan sebagian orang ini mendengar bahwa agama mayoritas di Indonesia adalah islam. Islam di Indonesia memang agama yang mempunyai pengikut sekitar 207 juta jiwa orang, yang sebagian menganut Islam aliran Suni. Hampir 90% rakyat Indonesia memeluk agama islam.

Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat setiap orang nonislam penasaran dan tertarik dengan agama Islam.

Faktor Internal dan Eksternal Menjadi Seorang Muallaf

Salah seorang muallaf menceritakan pengalamannya.Beberapa alasan dari dalam dirinya mengapa ingin memeluk agama Islam yaitu adanya tenang ketika mendengar ayat Al-Qur’an didengarnya, kemauan dari dalam diri, kekecewaan dengan agama sebelumnya yang dianut, ingin menikahi pasangan yang memiliki agama muslim dan lainnya.

Selain itu, adanya beberapa alasan eksternal mereka memeluk agama Islam dan menjadi muallaf yaitu alasan pertama karena mereka melihat bahwa Islam adalah agama yang benar dan Logis.

Baca juga: Menjaga Sikap Jujur, Amanah dan Istiqomah

Seakan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering kali muncul di kehidupan mereka yaitu ketika mereka membaca terjemahan dari ayat- ayat Al Qur’an dan dari ceramah yang disampaikan para ustadz.

Kemudian alasan kedua, yaitu karena melihat akhlak umat islam yang baik dan saling menghargai. Banyak dari kalangan muallaf yang kagum atas akhlak atau tingkah laku orang-orang Islam.

Seperti cara memuliakan orang tua, menghargai seorang perempuan dengan baik, memberi bantuan kepada orang lain, tidak berfoya-fota, dan tidak meminum alkohol.

Dari berbagai hal yang sederhana yang dilakukan itu, dapat membuat orang lain (muallaf) bahwa Islam adalah agama yang baik dan mengajarkan hal-hal baik kepada para pengikutnya, sehingga ini membuat mereka tertarik untuk mencari tau lebih dalam tentang Islam dan kemudian memutuskan untuk menjadi seorang Muallaf.

Janji Allah

Segala sesuatu yang ada didunia ini telah diatur oleh-Nya. Allah SWT sangat menyayangi semua hambanya.

Allah SWT menjanjikan kepada seluruh ummatnya bahwa:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang yang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(Surah at-Taubah ayat 60).

Dari ayat tersebut bisa ditarik kesimpulannya bahwa mullaf adalah orang yang hatinya dilunakkan oleh Allah dan diberikan hidayah, maka akan diberikan kemudahan disetiap jalan hidup mereka.

Hal Yang Dapati Diteladani

Ingatkah kamu ada sebuah pepatah yang berbunyi “unzhur maa qoola wa tandzur man qoola” yang memiliki makna “lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan“.

Jadi marilah kita petik pelajaran berharga dari para saudara muslim kita ini, yaitu :

1. Berani mengambil Resiko yang Besar

Berbagai resiko yang telah mereka hadapi dari berbagai pihak, hingga di titik kehidupan dimana mereka pasrah dan berserah diri kepada Allah SWT.

Jika sudah berusaha sekuat tenaga hal yang selanjutnya dilakukan adalah sabar dan berdoa.

2. Kemampuan Berfikir Kritis

Dalam berbagai situasi mereka selalu berfikir logis dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak mereka. Tidak pernah lelah dalam mencari ketenangan kehidupan untuk tuntunan hidupnya

3. Terbuka untuk Belajar dan Bertanya kepada yang Lebih Ahli

Tidak ada kata malu, mereka belajar dari awal apa itu islam. Bagaimana tata cara melakukan yang baik dan benar. Selalu belajar dan berusaha memperbaiki diri.

4. Teguh terhadap Pendirian

Meskipun banyak segala ujian dan tantangan yang terkadang sulit untuk dihadapi tetapi mereka tidak pernah pantang menyerah, selalu berusaha yang terbaik dan tidak menoleh ke masa lalunya.

6. Semakin Dewasa dalam Menghadapi Ujian Hidup

Memang susah memulai sesuatu apalagi yang memiliki resiko menimbulkan konflik batin, terlebih jika orang disekitar kita tidak mendukung dan tidak memilki rasa toleransi.

Haruslah bersabar dalam menghadapi segala masalah didalam hidup kita, karena selalu ada hikmah dibalik setiap ujian yang telah kita lalui.

Baca juga: Setiap Muslim Akan Menghadapi Ujian dan Cobaan

Karena dengan bersabar kita akan menjadi semakin dewasa dalam menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan.