Isim Ghairu Munshorif

Isim Ghairu Munshorif | Pengertian, Pembagian, dan Syarat

Diposting pada

Sebelumnya sudah kita singgung mengenai pengertian dhomir (kata ganti orang) dan berbagai hal yang berkaitan dengannya.

Baca juga: Pengertian Dhomir (Kata Ganti Orang)

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang isim ghairu munshorif. Dimulai dari pengertian isim ghairu munshorif, pembagian isim ghairu munshorif dan syarat-syarat Dari Isim ghairu munshorif.

Pengertian Isim Ghairu Munshorif

Isim ghairu munshorif adalah suatu isim yang tidak boleh ditanwin dan dikasroh.

Sehingga isim ghairu munshorif tidak bisa dibaca tanwin, dan juga ada yang menyebut bahwa isim ghairu munshorif tidak dapat menerima tanwin.

Seperti yang telah kita singgung di pembahasan sebelumnya, bahwa isim apabila ia tidak kemasukan alif dan lam ia ditanwinkan.

Begitupula apabila ada isim yang ia kemasukan salah satu dari huruf jar, maka hendaknya ia dikasroh.

Berbeda dengan isim ghairu munshorif yang ia tidak mencakup kaidah-kaidah isim seperti yang lainnya.

Sehingga, walaupun tidak terdapat awalan alif lam, isim ghairu munshorif tetaplah tidak bertanwin.

Contoh Isim Ghairu Munshorif

عُثْمَانُ – مَسَاجِدُ – عُمَرُ – عَائِشَةُ

Syarat-Syarat Isim Ghairu Munshorif

Agar dapat memenuhi beberapa kaidah sebagai isim ghairu munshorif, maka terdapat syarat-syarat yang wajib dipenuhi, yaitu:

1. Tidak Sebagai Mudhof

Maksud dari isim ghairu munshorif tidak sebagai mudhof adalah ia tidak boleh disandarkan pada isim yang lainnya.

Contohnya pada kata:

صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدَ

“Aku sholat di dalam masjid-masjid”

Perhatikan kata masajid (masjid-masjid) diatas, karena ia termasuk kedalam isim ghairu munshorif, maka pada saat ia kemasukan huruf jar (فِى) didalamnya maka ia tidak dikasrohkan.

Sehingga kata masajid ia tidak berposisi sebagai mudhof hal tersebut membuat harokatnya yang seharusnya kasroh menjadi fathah.

Apabila isim ghairu munsharif dalam hal ini berperan sebagai mudhof maka batal hukumnya sebagai isim ghairu munshorif, sehinga tidak dapat disebut sebagai isim ghairu munshorif.

2. Terbebas dari Alif dan Lam

Apabila isim ghairu munshorif ini menggunakan alif dan lam, maka ia tidak dapat disebut sebagai isim ghairu munshorif. Hal tersebut karena ia sudah membatalkan syarat yang harus dipenuhi sebagai isim ghairu munshorif.

Sehingga pada saat ia berada pada posisi dimana kemasukan huruf jar, maka ia dikasrohkan huruf terakhirnya dan tidak lagi di fathah dengan mengikuti hukum isim ghairu munshorif.

Macam-Macam Isim Ghairu Munshorif

Ada beberapa macam isim yang termasuk kedalam kategori isim ghairu munshorif, yaitu:

1. Bentuk Jamak yang Berpola مَفَاعِلُ

Bentuk jamak yang berpola مَفَاعِلُ pada isim ghairu munshorif dinamakan dengan shighoh muntahal Jumu’.

Sehingga bentuk jamak pada isim ghairu munshorif mempunyai pola مَفَاعِلُ.

Contoh:

مَسَاجِدُ – مَقَاعِد

Sehingga isim yang mempunyai pola مَفَاعِلُ pada bentuk jamaknya maka ia masuk ke dalam kategori isim ghairu munshorif.

2. Isim Maqshur yang Berjenis Muannats

Macam selanjutnya adalah isim maqsur yang ia mempunyai jenis perempuan (muannats).

Contoh:

كُبْرَى – حُبْلَى

3. Isim Mamdud yang Berjenis Muannats

Macam selanjutnya adalah isim mamdud yang ia mempunyai jenis perempuan (muannats).

Sebagaimana yang telah kita pelajari pada pembahasan mengenai isim ditinjau dari jenisnya terbagi menjadi 2, yaitu mudzakkar dan muannats.

Baca juga: Pembagian Isim Berdasarkan Jenisnya

Begitupula dengan isim mamdud, ia juga mempunyai jenis mudzakkar maupun muannats. Maka untuk isim mamdud yang mempunyai jenis muannats, maka ia tidak ditanwin.

Contoh:

صَحْرَاءُ – حَمْرَاءُ

(Padang Pasir)

Contoh isim ghairu munshorif diatas termasuk pada muannats majazi.

4. Nama Perempuan

Nama perempuan ia tidak ditanwinkan begitupula saat ia kemasukan huruf jar, maka ia tidak di kasrohkan. Sehingga nama perempuan ini dapat dikategorikan sebagai isim ghairu munshorif.

Contoh:

مَرْيَمُ – عَائِشَةُ

5. Nama yang Berpola فُعَلُ

Macam selanjutnya adalah nama yang ia mengikuti pola فُعَلُ. walaupun termasuk kedalam nama laki-laki, sehingga ia tidak boleh di tanwinkan.

Contoh:

عُمَرُ – زُحَلُ

6. Nama yang Diakhiri Tambahan Alif dan Nun

Apabila ada nama orang yang ia diakhiri dengan tambahan alif dan nun, maka nama ini masuk ke dalam kategori isim ghairul munshorif, sehingga ia tidak boleh ditanwin atau dibaca tanwin.

Contoh:

عُثْمَانُ – سَلْمَانُ

7. Nama orang asing / nama ajam (selain arab)

Nama orang asing atau disebut juga dengan nama a’jam dapat digolongkan kedalam isim ghairu munshorif. Nama a’jam ini merupakan nama yang bentuknya selain berasal dari arab.

Contoh:

إِبْرَاهِيْمُ – إِسْمَاعِيْلُ

Semoga dapat bermanfaat, barakallah fiikum.

Gambar Gravatar
Founder pusilpen.online/pusatilmupengetahuan.com Playmaker dewicookies.com, nusacharity.org, dan qothrunnadaa.com