Keanekaragaman Hayati dan Klasifikasi

Diposting pada

Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati didefinisikan sebagai keragaman makhluk hidup dalam hal variasi gen, jenis, dan ekosistem dalam suatu lingkungan.

Jenis Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

Keanekaragaman tingkat gen

yaitu keanekaragaman yang terjadi sebagai akibat dari variasi genetik dalam satu spesies.

Contoh: Keanekaragaman warna mahko­ta bunga pada tanaman mawar, yaitu ada tanaman mawar merah, putih, kuning, dan ungu.

Keanekaragaman tingkat jenis (spesies)

yaitu keanekaragaman variasi bentuk dan penampakan yang dimiliki oleh spesies satu dengan yang lainnya dalam suatu lingkungan.

Contoh: Keanekaragaman jenis pada penampakan buah nangka (Artocarpus heterophylus) dan cempedak (Artocarpus cempedens) yang merupakan satu famili.

Keanekaragaman tingkat ekosistem

yaitu keanekaragaman yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara makhluk hidup penyusun suatu daerah dengan lingkungannya.

Contoh: Ekosistem padang rumput dengan hutan hujan tropis.

Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Pelestarian terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia digolongkan menjadi dua, yaitu:

Pelestarian in situ

yaitu usaha pelestarian terhadap makhluk hidup yang dilakukan di habitat aslinya.

Contoh: cagar alam, taman nasional, dan hutan lindung.

Pelestarian eks situ

yaitu usaha pelestarian yang dilakukan dengan memindahkan makhluk hidup dari habitat aslinya. Contoh: kebun binatang, kebun botani, dan taman safari.

Klasifikasi Makhluk Hidup

Klasifikasi merupakan suatu proses peng­ golongan makhluk hidup secara sistematis menurut aturan tertentu untuk memudahkan kita dalam mempelajari ciri­ciri dan sifat suatu makhluk hidup.

Tujuan dan Manfaat Mempelajari Klasifikasi

Tujuan klasifikasi terhadap makhluk hidup, yaitu:

  1. Untuk mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri­ciri yang dimiliki.
  2. Untuk mendeskripsikan ciri­ciri makhluk hidup sehingga dapat diketahui perbedaan yang dimiliki antara makhluk hidup satu dengan makhluk hidup lainnya.
  3. Untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarmakhluk hidup.
  4. Memberi nama makhluk hidup spesies baru yang baru diketahui.

Berdasarkan tujuan tersebut maka sistem klasifikasi pada makhluk hidup memiliki beberapa manfaat, yaitu:

  1. Memudahkan kita dalam mempelajari makhluk hidup yang sangat beraneka ragam.
  2. Agar hubungan kekerabatan antarmakhluk hidup dapat diketahui.

Dasar-dasar Klasifikasi

Beberapa hal yang menjadi dasar pada sistem klasifikasi makhluk hidup, yaitu:

  1. Berdasarkan persamaan
  2. Berdasarkan perbedaan
  3. Berdasarkan ciri morfologi dan anatomi
  4. Berdasarkan ciri biokimia
  5. Berdasarkan manfaat

Tahapan dalam Klasifikasi

Terdapat tiga tahap yang harus dilalui ketika ingin melakukan pengklasifikasian terhadap makhluk hidup, yaitu:

  1. Melakukan proses identifikasi dan penga­ matan terhadap sifat makhluk hidup.
  2. Mengelompokkan makhluk hidup berda­ sarkan ciri­ciri dan sifat yang diamati.
  3. Memberikan nama pada makhluk hidup jenis baru dengan maksud untuk mempermudah dalam pengenalan dan dapat membedakan dengan makhluk hidup lainnya.

Macam-macam Klasifikasi

Klasifikasi sistem alami

yaitu klasifikasi yang didasarkan pada sifat morfologi, fisiologi, dan anatomi yang dimiliki oleh makhluk hidup.

Contoh: kambing, sapi dan kerbau diklasifikasikan ke dalam golongan hewan berkaki empat (morfologi).

Klasifikasi sistem buatan

yaitu klasifikasi yang didasarkan pada ciri morfologi yang mudah diamati dari makhluk hidup.

Contoh: pada klasifikasi tumbuhan terdiri atas herba, pohon, dan semak.

Klasifikasi sistem filogenik

yaitu jenis klasifikasi yang didasarkan pada sejarah evolusi makhluk hidup dan hubungan kekerabatan antara takson satu dengan yang lainnya.

Baca: Pengertian Evolusi secara Lengkap

Contoh: hubungan kekerabatan antara orang utan dan gorila.

Sistem Tata Nama Makhluk Hidup

Sistem pemberian nama pada makhluk hidup yang terdiri atas dua bagian nama disebut sistem tata nama ganda atau dikenal dengan Binomial nomenclature.

Sistem ini diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus (1707­1778). Hierarki taksonomi yang diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus tersusun atas takson (tingkatan) dari tingkat tinggi ke tingkat rendah, yaitu:

Aturan pada sistem tata nama Binomial nomenclature, yaitu:

  1. Terdiri atas dua kata bahasa latin atau dilatinkan.
  2. Kata pertama diawali dengan huruf besar merupakan nama genus, kata kedua diawali dengan huruf kecil merupakan penunjuk spesies (epitheton spesificum).
  3. Tulisan harus bercetak miring jika dicetak (ketik komputer) atau digarisbawahi jika ditulis tangan.

Contoh: Rhinoceros sondaicus (badak bercula satu) g ketik komputer Elaeis oleifera (kelapa sawit) g tulis tangan

Perkembangan Sistem Klasifikasi

Sistem Dua Kingdom

(Aristoteles, tahun 1800). Pengelompokan makhluk hidup dengan sistem ini terdiri atas kingdom Plantae (tumbuhan) dan kingdom Animalia (hewan).

Sistem Tiga Kingdom

(Ernest Haekel, tahun 1866). Sistem tiga kingdom terdiri atas kingdom Protista, kingdom Plantae, dan kingdom Animalia.

Sistem Empat Kingdom

  1. (E. Chatton, tahun 1959). Sistem empat kingdom terdiri atas Monera, Protista, Plantae, dan Animalia.

Sistem Lima Kingdom

(Robert Whittaker, tahun 1969). Sistem lima kingdom terdiri atas kingdom Monera, kingdom Protista, kingdom Fungi, kingdom Plantae, dan kingdom Animalia.

Sistem Enam Kingdom

(Salomon, tahun 1999­2002). Sistem enam kingdom terdiri atas kingdom Virus, kingdom Protista, kingdom Monera, kingdom Fungi, kingdom Plantae, dan kingdom Animalia.