Pelajari Sejarah Kartini Agar Jadi Generasi Milenial Keren

Diposting pada

Sejarah Kartini Agar Jadi Generasi Milenial Keren – Pada tanggal 21-22 April, heran nggak sih lihat wanita-wanita dengan kebaya, konde, dan baju adat?.

Selain itu, di beragam instansi pemerintahan dan pelayanan publik, akan ditemui petugas dengan baju tradisional yang keren dan elegan.

Tetapi, tahu nggak? Kenapa hari ini begitu meriah dengan nuansa tradisional yang anggun dan elegan? Yes, betul. Tidak lain karena memperingati jasa Ibu Kartini. Beliau, sosok yang terkenal dengan ide kerennya untuk kaum wanita. Ide emansipasi terhadap wanita menjadi terobosan berharga di masanya dan bahkan hingga saat ini pun masih terus digaungkan. .

Ide yang menjadi dasar untuk kemerdekaan hak-hak wanita setelah sekian lama terbelenggu dalam norma budaya dan etika kesopanan di zamannya.

Makanya, nggak heran kalau semangat ala beliau tetap menyala dan dijalankan oleh kaum wanita dari setiap generasi. Termasuk, untuk generasi milenial, generasi alpha, serta generasi Z. Mau tahu seperti apa sejarahnya dan bagaimana caranya agar menjadi Kartini milenial? Yuk simak ulasan di bawah ini.

Sejarah Kartini Dan Cara Jadi Milenial Keren

Sejarah Kartini Dan Cara Jadi Milenial Keren

Pada zamannya, Kartini kecil merasa iri dengan kaum laki-laki yang berhak mendapatkan pendidikan secara formal. Sedangkan kaum perempuan harus manut dengan norma tradisi yang ada, tidak boleh untuk sekolah secar formal.

Padahal, menurut Kartini, perempuan pun bisa sehebat laki-laki dan belajar secara formal dengan normal. Oleh karena itu, pada sejarah Kartini yang ditulis dalam buku Habislah Gelap Terbitlah Terang,  dituangkan kegelisahan-kegelisahannya dalam berlembar-lembar surat.

A. Sejarah Kartini

Perempuan keren ini lahir di Jawa bagian Tengah, tepatnya di kota Jepara pada tanggal 21 bulan April di tahun 1879 lalu. Sayangnya, beliau wafat di usia yang cukup muda. Yaitu pada tahun 1904 pada September tanggal 17. Namun, meski hidup beliau relatif singkat, banyak hal bermanfaat yang sudah dilakukannya. Termasuk, gerakan emansipasi wanita ala beliau yang mendunia berkat kesukaannya terhadap dunia korespondensi dengan Abendanon.

Jika melakukan pencarian terkait sejarah Kartini ini, maka akan ditemui hal-hal standard yang biasa dicari. Seperti nama ibu beliau yaitu M.A Ngasirah, kemudian ayah dengan nama R.M Adipati Ario Sosroningrat yang kala itu masuk dalam jajaran ningrat.

Namun, perlu diketahui meski beliau hidup dalam dunia serba kecukupan, kepedulian yang tinggi terhadap masalah social, membawa beliau menjadi seorang penggiat literasi yang luar biasa. Karena baliau mahir berbahasa Belanda dan sudah melahap buku-buku berat sejak usia dini. Keren sekali bukan?

B. Cara Jadi Milenial Keren

Cita-cita Ibu Kartini sudah menjadi nyawa dan semangat untuk seluruh kaum wanita, agar terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tidak peduli di zaman apapun itu . Sehingga, seiring perkembangan waktu, perempuan dituntut untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Misalnya saja action untuk meningkatkan skill atau kemampuan di era serba digital ini. Selain anggun dan tangguh, perempuan harus punya 3 hal mendasar untuk tetap menyalakan semangat kartini.

Sifat Kartini yang Patut Diteladani Di Era Milenial

Sifat Kartini yang Patut Diteladani Di Era Milenial

Nah, penasaran seperti apa saja hal mendasar ala Kartini milenial? Kuy, simak ulasannya berikut ini.

1. Kecerdasan Sosial

Kalau lagi gabut, suka ngapain? Mungkin, sebagian besar akan scroll media sosial. Mencari tahu info terkini, sejarah kartini, materi pelajaran, kabar teman-teman, keluarga dan mungkin juga perkembangan dunia di zaman ini. Namun, tahu nggak? Kalau semua interaksi itu bisa dibuat untuk menumbuhkan kecerdasan sosial. Jadi, buat yang merasa ‘aku belum punya kecerdasan sosial’ eh serius, deh.

Mari renungkan bahwa hakikat kecerdasan sosial itu tidak harus dalam bentuk menyumbang kemana-mana seperti influencer terkenal, atau jadi relawan atau hallain. Ternyata bisa loh, dengan cara menebar kebaikan ke ranah sosial media. Melalui konten-konten  positif, memberi dukungan dan afirmasi positif untuk teman atau keluarga yang sedang bersedih. Menjadi motor untuk menyebarkan vibes kebaikan dan aksi-aksi keren yang menakjubkan.

Jadi, kalau ngaku sebagai Kartini milenial, yuk miliki kecerdasan sosial dengan mencegah diri menebar hoax, hate speech, dan beragam konten negatif. Karena, Kartini milenial tidak melakukan itu.

2. Kemampuan Digital

Jadi gini, bagi generasi milenial, semua fokus hidup bisa dilakukan sambil melihat gawai. Terlebih, dengan maraknya smartphone yang punya fitur canggih dan mumpuni.

Misalnya, butuh makanan dan minuman, maka order makanan lewat smartphone. Butuh bepergian tapi malas nyetir, bisa order lewat smartphone.

Bahkan, jika butuh bercanda, hiburan dan berkumpul dengan teman-teman, bisa dilakukan lewat smartphone. Termasuk belajar materi pelajaran atau mengulik sejarah Kartini pada masa itu, juga sangat bisa.

Coba mari renungkan. Mau order makanan, maka mata akan membaca iklan sebuah makanan dengan foto dan juga caption yang menggugah selera.

Mau melek informasi, maka buka portal berita online dengan ragam headline dan juga informasi sesuai topik yang diinginkan.

Nah, pertanyaannya, bukankah untuk semua itu perlu skill untuk menggunakan kecanggihan teknologi digital saat ini? Jadi, Kartini milenial kudu melek teknologi. Paling tidak, tahu cara bikin e-mail, cara simpan file, dan cara cari referensi bermanfaat. Sebab, mau nggak mau, kudu tanggap. Bukannya malah gagap teknologi.

3. Berdikari

Punya keahlian unik apa? Misal ahli bikin insta feeds dengan tampilan kece. Maka, bisniskan saja. buka pendaftaran kelas online by sosial media dan materinya pun diberikan lewat sana.

Untuk ikut kelas mempercantik insta feeds ini, peserta bisa ditarik biaya. Nah, sudah jadi lahan bisnis ya kan. Karena, untuk generasi milenial, kalau mau berdikari menghasilkan uang sendiri, nggak butuh modal banyak loh. Cukup pahami sejarah Kartini dan esensinya.

Kemudian dukung dengan memiliki kecerdasan sosial dan juga kemampuan digital. Sehingga, cita-cita bangsa untuk memberdayakan perempuan dengan maksimal, di tengah segala keterbatasannya, bukan cuman mimpi. Sebab, Kartini-kartini milenial, siap mewujudkannya.

Demikianlah sejarah Kartini dan  hal dasar yang harus dimiliki oleh Kartini milenial. Agar semangat Raden Ajeng Kartini tetap terpelihara dan tidak padam diterpa kemajuan zaman.

Sebab, wanita adalah tiang sebuah kelaurga. Jika di level keluarga, tiangnya bagus, bukan tidak mungkin nasib sebuah bangsa dan negara pun membaik karena wanita-wanitanya memiliki jiwa dan semangat ala Sejarah Kartini. Semangat!