Pengertian Idhafah dan Syarat-Syaratnya

Setelah pada kesempatan sebelumnya kita telah membahas panjang lebar tentang ciri-ciri dari isim dan Fi’il dalam Bahasa Arab.

Baca juga: Ciri-Ciri Isim dan Fi’il

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas pengertian idhafah dan syarat-syaratnya.

Pengertian Idhafah

Idhafah adalah suatu penyandaran pada suatu kalimat isim kepada kalimat yang lain untuk menunjukkan kepada suatu pengertian yang lebih khusus atau  penggabungan dari dua kalimat isim yang dapat menyebabkan kalimat isim yang kedua tersebut menjadi dibaca jar selamanya.

Baca juga: Pengertian Kalimah

Sebagaimana telah tertuang di dalam kitab matan Al-Ajurumiyah ‘Imrithy, yang diterjemahkan, yaitu:

المخفوضات ثلاثة: مخفوضة بالحرف ومخفوض بالاضافة وتابع للمخفوض

Lafadz-lafadz yang di-jar-kan (dikasrohkan) dapat terdapat terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Lafadz yang di-jar-kan oleh huruf jar, contoh: فِي الفَصْلِ
2. Lafadz yang di-jar-kan dengan idhofah, contoh:  كِتَابُ زَيْدٍ
3. Lafadz yang mengikuti lafadz yang di jar-kan (karena menjadi na’at, athaf, taukid, badal)

Baca juga: Jumlah Mufidah | Pengertian dan Pembagiannya

Didalam buku Bahasa Arab berjudul “Ringkasan Kaidah-kaidah Bahasa Arab” karangan ustadz Aunur Rofiq Ibn Ghufran disebutkan bahwa idhofah adalah suatu susunan dua ataupun lebih isim yang damat menyebabkan isim kedua tersebut harus dibaca jar sebab disambung dengan isim yang sebelumnya. 

Kata pertama pada kalimat idhafah disebut Mudhaf, sedangkan kata yang kedua disebut Mudhaf Ilaih.

Berdasarkan dari susunan kalimat pada idhafah, dikenal dengan istilah kata yang disandarkan (mudhaf) dan kata yang menjadi sandaran/yang disandari (mudhaf ilaih).

Baca juga: Pengertian Huruf

Disebutkan didalam terjemahan Matan Alfiah Ibnu Malik 81 mengenai idhafah yaitu:

نُونَاً تَلِي الإِعْرَابَ أَوْ تَنْوِينَا مِمَّا تُضِيْفُ احْذِف كَطُوْرِ سِيْنَا

“Terhadap Nun yang mengiringi huruf tanda i’rob atau terhadap Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti : THUURI SIINAA’ = Gunung Sinai”

وَالْثَّانِيَ اجْرُرْ وَانْو مِنْ أَوْ فِي إِذَا لَمْ يَصْلُحِ إلاَّ ذَاكَ والْلاَّمَ خُذَا

“Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FIY bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM”

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ وَاخْصُصْ أَوَّ لاَ أَوْ أَعْطِهِ الْتَّعْرِيْفَ بِالَّذِي تَلاَ

“Pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fiy). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih)”

Syarat-Syarat Idhafah

Berikut ini merupakan beberapa syarat-syarat idhafah.

1. Tidak Boleh Didahului Alif Lam (أَلْ)

Syarat dari idhafah yang pertama adalah membuang alif lam dari mudhof. Contoh:

mudhofالرَّسُوْلُ
mudhof ilaihiاللهُ

2. Membuang nun mutsanna atau jamak pada mudhof

Ciri kedua adalah membuang nun mutsanna atau jamak pada mudhof dalam idhofah.
Contoh:

mudhofكِتَابَانِ 
mudhof ilaihiمُحَمَّدٌ

3. Idhafah Tidak Boleh Di Tanwin

Ciri ketiga dari idhafah adalah tidak boleh ditanwin, namun hanya berlaku pada Mudhof yang ada didalam idhafah.

Contoh:

mudhofحَقِيْبِةٌ
mudhof ilaihiمُحَمَّدٌ

Baca juga: Terjemah Alfiyah Ibnu Malik Bab Idhafah

Demikian penjelasan mengenai pengertian idhafah dan syarat-syaratnya, semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum.

Bagikan Artikel melalui :