Pengertian Nahwu dan Sharaf dalam Bahasa Arab

Pengertian Nahwu dan Sharaf dalam Bahasa Arab

Diposting pada

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai keutamaan belajar Bahasa Arab bagi seorang muslim. Maka pada kesempatan ini kita akan membahas tentang nahwu dan sharaf.

Bahasa Arab mempunyai cabang-cabang ilmu yang jumlahnya cukup banyak. Namun pada kesempatan kali ini kita akan membahas dua cabang ilmu dalam Bahasa Arab yaitu ilmu Nahwu dan Sharaf.

Nahwu dan Sharaf adalah merupakan diantara banyaknya cabang ilmu dalam Bahasa Arab, dimana kedua cabang ilmu ini mempunyai fungsi yang berbeda. Berikut penjelasan mengenai pengertian ilmu nahwu dan sharaf dalam Bahasa Arab.

Pengertian Nahwu dalam Bahasa Arab

Ilmu nahwu adalah salah satu cabang ilmu dalam Bahasa Arab yang digunakan untuk mengetahui hukum akhir dari suatu kata.

Sehingga nahwu merupakan kumpulan beberapa kaidah  dalam Bahasa Arab yang berfungsi untuk mengetahui bentuk kata beserta keadaan-keadaannya ketika masih muford (berjumlah satu kata) atau ketika sudah Murokkab (tersusun).

Baca juga: Pengertian Huruf dalam Ilmu Nahwu

Didalam nahwu juga termasuk didalamnya adalah pembahasan ilmu SHOROF. Karena Ilmu Shorof sendiri juga merupakan bagian dari Ilmu Nahwu, dimana fokus pembelajarannya ditekankan kepada pembahasan mengenai bentuk pada suatu kata beserta keadaannya saat mufrodnya.

Perhatikan kaidah Bahasa Arab dibawah:

Pada umumnya, pembahasan mengenai Nahwu sendiri mencakup berbagai pembahasan tentang bentuk kata dan keadannya ketika masih mufrod (belum tersusun).

Misalnya bentuk dari Isim Fa’il (Isim yang dimustaq dari fi’il) yang mengikuti dari wazan فاعل, Isim Tafdhil yang mengikuti wazan أفعل berbagai keadaanya, misalnya cara mentatsniyahkan, menjamakkan, mentashghirkan dan lain sebagainya. 

Selain itu nahwu juga membahas mengenai keadaan kata ketika telah tersusun (murokkab), misalnya rofa’nya kalimah isim saat ia menjadi fa’il, atau memu’annatskan kalimah fi’il apabila sebelumnya menunjukkan bentuk Mu’annats dan lain sebagainya.

Didalam Bahasa Arab satu kata dalam disebut juga dengan Kalimah (الكَلِمَة). Kalimat dalam Bahasa Arab adalah suatu lafadz yang mempunyai arti atau menunjukkan arti tertentu. 

Sedangkan didalam bahasa arab susunan kata dikenal dengan Murokkab (المُرَكَّب). Murokkab adalah susunan dua kalimat maupun lebih karena didalamnya terdapat faidah yang dimaksudkan.

Jika kalimat atau susunan pada sebuah kata telah sempurna, atau di dalam kaidah nahwunya sudah memberi sebuah pengertian menggunakan suatu hukum tertentu ”Faidah baiknya diam” maka kalimat sempurna tersebut disebut juga dengan Kalam (الكَلاَم) atau Jumlah (الجُمْلَة).

Pada Umumnya Didalam Bahasa Arab Kalimat-Kalimatnya dapat disimpulkan menjadi 3 macam, yaitu:

  1. Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja
  2. Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda
  3. Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.

Pengertian Sharaf dalam Bahasa Arab

Sharaf adalah salah satu cabang ilmu dalam bahasa arab yang mempelajari mengenai perubahan bentuk pada suatu kata dalam bahasa arab. Sedangkan didalam praktiknya perubahan-perubahan pada kata dalam bahasa arab dikenal dengan tashrif.

Secara bahasa tashrif berarti pengubahan. Sedangkan menurut istilah tashrif adalah pengubahan bentuk asal sesuatu kepada contoh yang berbeda-beda dengan tujuan untuk dapat menghasilkan sebuah makna yang dimaksud.

Tujuan makna dari hasil perubahan tersebut tidak akan berhasil kecuali dengan menggunakan berbagai bentuk yang berbeda-beda tersebut.

Sehingga ilmu sharaf ini identik dengan yang namanya perubahan atau berubah, dari satu bentuk kata ke bentuk kata yang lainnya. Ilmu sharaf disebut sebagai ilmu peubahan kata karena fokus pembahasannya sendiri adalah tentang tashrif (perubahan) yang terjadi pada suatu kata dalam bahasa arab.

Berdasarkan pendapat para Ulama Basrah bentuk asal dari kalimat adalah Masdar, dan pendapat inilah yang paling banyak mendapatkan dukungan.

Sedangkan menurut Ulama Kuffah bentuk asal dari kalimat adalah fi’il madhi.

Bentuk asalnya adalah Masdar yang kemudian diubah kedalam contoh-contoh yang lainnya, misalnya: Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’, Fi’il Amar, Fi’il Nahi, Isim Maf’ul, Isim Fa’il, Isim Zaman, Isim Makan, Isim Murrah, Isim Hai’ah, Isim Alat, Isim Nau’, Isim Tafdhil, Shighat Mubalaghah dan lain sebagainya.

Adanya perubahan pada contoh-contoh kata diatas bertujuan untuk menghasilkan sebuah makna yang diiinginakan. Suatu kata dapat berubah kedalam bentuk lainnya beserta makna yang berbeda sesuai dengan tujuan, apabila proses pengubahannya tidak mengubah contoh-contoh asli dari kata tersebut.

Contoh:

  1. Asal kalimat adalah Fi’il Madhi menjadi: ضَرَب  dibaca: Dharaba, bermakna: Telah memukul.
  2. Dirubah ke sampel Fi’il Mudhari’ menjadi: يَضْرِبُ  dibaca: Yadhribu bermakna: Akan memukul.
  3. Dirubah menjadi contoh lain misalnya Masdar: ضَرْبٌ  dibaca: Dharbun, bermakna: Pukulan.
  4. Dirubah ke sampel Fi’il Amar menjadi:  اِضْرِبْ dibaca: Idhrib bermakna: Pukullah! Dan sebagainya.

Nah, contoh dari perubahan kata beserta makna dalan beberapa penggalan kata diatas didalam bahasa arab biasa dikenal dengan tashrif.

Dimana bentuk asal pada suatu kata diubah menjadi bentuk yang lainnya dengan makna yang bebeda namun mempunyai asa kata yang sama. 

Video Penjelasan

Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita mengenai pengertian nahwu sharaf dan lain sebagainya.

Gambar Gravatar
Founder pusilpen.online/pusatilmupengetahuan.com Playmaker dewicookies.com, nusacharity.org, dan qothrunnadaa.com