Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Madinah

Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai perjuangan dakwah nabi di madinah. Simak penjelasannya dibawah ini:

Hijrah Nabi ke Madinah (Yatsrib)

Hijrah Nabi ke Madinah (Yatsrib)

Kaum Quraisy telah mendengar rencana hijrah Nabi dan umat Islam ke Madinah untuk mengembangkan dakwah. Mereka khawatir jika Nabi dan umat Islam pindah ke Madinah akan membentuk kekuatan baru dan mengancam masyarakat kota Makkah.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kepergian Nabi kaum kafir Quraisy berencana membunuh Nabi Muhammad SAW. Namun sebelum itu terjadi, Allah telah terlebih dahulu memberitahukan kepada Nabi mengenai rencana pembunuhan itu melalui wahyuNya.

وَإِذْيَمْكُرُبِكَ ألَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ أَو ْيَقْتُلُوْكَ أَو ْيُخْرِجُوْكَ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُاللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika orang kafir (Quraisy memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad)) untuk menangkap dan membunuhmu, atau mengusirmu. Orang-orang kafir membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya. Allah adalah sebaik-baiknya pembalas tipu daya. (QS. Al-Anfal ayat 30)

Dengan wahyu itu Jibril memerintahkan Nabi untuk hijrah meninggalkan Kota Makkah dan dengan pertolongan Allah Nabi berhasil keluar dari rumahnya bersama Abu Bakar.

Baca: Perjuangan Dakwah Nabi periode Makkah

Sementara Abu Bakar dan Nabi bersembunyi di Gua Tsur, Ali lah yang menggantikan Nabi dengan cara tidur di tempat tidur Nabi, . Setelah situasi aman barulah Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan selamat, dan Ali menyusulnya 3 hari kemudian.

Langkah Dakwah Nabi di Madinah

gambar kota madinah jaman dulu

Hijrah Nabi dan umat Islam ke Madinah menandai zaman baru bagi perjalanan dakwah Islam. Dengan ini, umat Muslim tidak lagi mendapat gangguan dari orang-orang Quraisy, karena mereka mendapatkan perlindungan penduduk muslim Madinah.

Nabi mempersiapkan langkah-langkah dakwah di Madinah sebagai berikut:

1. Membangung Masjid

Nabi membangun Masjid Nabawi dan tempat tinggal di sebidang tanah yang dibelinya dari anak yatim yakni Sahal dan Suhail.

Selain untuk tempat shalat, masjid tersebut digunakan sebagai pusat kegiatan pendidikan, pengajaran keagamaan, dan tempat untuk mengadili berbagai masalah yang muncul di masyarakat, musyawarah, dan pertemuan penting lainnya.

Berdirinya masjid tersebut juga menjadi permulaan pembangunan kota. Lama kelamaan jalanannya tertata rapi dan wilayah tersebut menjadi pusat kota, pusat perdagangan dan pusat pemukiman.

2. Menciptakan persaudaraan baru

Untuk memperkuat barisan umat muslim, Nabi menciptakan persaudaraan baru berdasarkan agama antara muslimin yang berasal dari Makkah (kaum Muhajirin) dengan umat muslim Madinah (kaum Anshar), seperti Umar bin Khattab bersaudara dengan ‘Ithbah bin Malik Al-Khazraji, Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, dan sebagainya.

Dalam persaudaraan ini, kedua saudara seiman tersebut saling berempati satu sama lain dan saling bahu membahu. dan sejak itu, terciptalah suasana yang semakin rukun, aman, dan damai.

3. Perjanjian dengan kaum non muslim Madinah

Nabi beserta kaum Anshar dan Muhajirin melakuka musyawarah untuk merumuskan pokok-pokok pemikiran yang akan dijadikan undang-undang. Undang-undang tersebut mengatur kehidupan seluruh masyarakat Madinah yang bersedia hidup berdampingan di tengah banyaknya perbedaan.

Isi undang-undang tersebut (Piagam Madinah) adalah sebagai berikut:

  1. Kaum muslimin dan non muslim hidup rukun dan bebas memeluk dan menjalankan ajaran agama masing-masing.
  2. Apabila salah satu dari kedua pihak diserang musuh, maka yang lain wajib membantu yang diserang.
  3. Wajib tolong menolong melaksanakan kewajiban untuk kepentingan bersama.
  4. Muhammad Rasulullah adalah pemimpin umum untuk seluruh penduduk Madinah. Apabila terjadi perselisihan antar umat beragama nantinya, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada keadilan Muhammad sebagai pimpinan tertinggi di Madinah.

Dengan itu, maka terbentuklah sebuah negara Madinah. Nabi Muhammad SAW menjadi kepala negara yang diangkat secara aklamasi. Yang memiliki otoritas untuk memimpin dan melaksanakan ketatanegaraan.

4. Pembangunan pranata sosial dan pemerintahan

Penduduk Madinah menyambut hangat kedatangan Nabi dan umat muslim ke Madinah. Namun setelah umat muslim semakin berkembang dan berkuasa, banyak dari kalangan non muslim yang menaruh dendam dan tidak suka.

Karena itu, Nabi mulai menata sistem sosial agar semua dapat hidup rukun dan damai. Untuk kalangan muslim Nabi mempersaudarkan kaum Muhajirin dan Anshar.

Sedangkan penduduk non muslim terikat dengan peraturan yang tertuang dalam Piagam Madinah. (Sumber: Sejarah Kebudayaan Islam, Murodi, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2014)

Respon Penduduk Madinah Terhadap Dakwah Nabi

respon penduduk madinah terhadap nabi muhammad shallahu'alaihi wassalam

Mayoritas masyarakat dari bebagai kaum agama mula-mula menyambut baik dakwah Nabi. Namun ada beberapa orang non muslim yang tidak suka dengan perkembangan Islam yang begitu pesat.

Saat hubungan sosial antara kaum Yahudi dan umat muslim sedikit retak, seorang rahib (pendeta) Yahudi terkemuka bernama Husein bin Sallam masuk Islam.

Dari sinilah mulai timbul berbagai konflik antara umat Islam dan kaum Yahudi Madinah. Kemudian kaum Yahudi tersebut berkoalisi dengan kaum kafir Quraisy untuk menyerang umat Islam, dan perang pun akhirnya tidak dapat terhindarkan.

Nabi pernah mengikuti beberapa peperangan penting yakni:

1. Perang Badar

Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 H di salah satu sumber mata air milik Badar. Dalam perang ini, pasukan muslim hanya berjumlah 313 dan pasukan musuh yang dipimpin Abu Sufyan berjumlah 1000.

Namun atas izin Allah umat Islam mendapat kemenangan gemilang. Dalam pertempuran ini Abu Jahal tewas dan 14 pasukan muslim gugur sebagai syuhada.

2. Perang Uhud

Perang ini berlangsung pada tahun ke-3 H di perbukitan Uhud.  Abu Sufyan sebagai pemimpin. memimpin pasukan yang berjumlah 3000 pasukan bergerak menuju Madinah. Pasukan muslim  yang dipimpin Nabi berjumlah 1000 orang, namun dalam perjalanan orang munafik membelot dan hanya menyisakan 700 orang pasukan.

Ketika itu Nabi memutuskan untuk menyerang dari balik bukit. Nabi memberi perintah kepada 50 tentara pemanah agar bersiap di posisi bukit Ainain. Nabi menunjuk Zaid sebagai komando pasukan kavileri yang bertugas menjaga jalur penghubung antara bukit uhud dan bukit Ainain dari serangan musuh yang datang dari belakang.

Pada tahap awal peperangan, tentara muslim memperoleh kemenangan, namun menjelang akhir pertempuran, barisan pemanah muslim meninggalkan pos penjagaan untuk mengambil harta rampasan. Akibatnya barisan pertahanan Islam hilang.

Khalid bin Walid yang menyadari hal itu dengan sigap menyerang pasukan muslim dari arah belakang. Karena hal ini pasukan muslim harus mundur. Akibat perang ini, pasukan kafir Quraisy tewas sekitar 23 orang dan sebanyak 70  pasukan muslim gugur sebagai syuhada termasuk paman Nabi Muhammad Hamzah bin Abdul Muthalib.

3. Perang Khandaq

Dalam perang ini atas saran Salman Al-Farisi, Nabi memutuskan sistem pertahanan perang menggunakan parit besar mengitari perbatasan kota Madinah, akibatnya pasukan musuh sulit menerobos dan menyerang.

Oleh karenanya pasukan musuh melakukan serangan dan pengepungan berhari-hari sehingga persediaan pangan mereka semakin berkurang. Lalu Allah memberi umat muslim pertolongan dengan angin kencang yang merobohkan tenda-tenda musuh (QS. Al-Ahzab ayat 9) dan sebab itulah pasukan musuh memilih mundur.

Dalam perang ini, kaum kafir berjumlah 10.000 pasukan yang terdiri dari kaum kafir Quraisy Makkah, suku Badui, dan kaum Yahudi. Sedangkan umat muslim berjumlah 3.000 tentara. Nama Islam semakin harum dan disegani berkat kemenangannya dalam perang ini.

4. Perjanjian Hudaibiyah

Enam tahun sejak meninggalkan Makkah dan tidak dapat kembali, akhirnya pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 H umat Islam bersama Nabi Muhammad berangkat ke Makkah dengan maksud menunaikan ibadah haji. Para pemuka kaum kafir Quraisy mengetahui akan hal itu dan berusaha menghadangnya.

Kedua kubu akhirnya sepakat untuk menyelenggarakan perundingan di tempat yang bernama Hudaibiyah. Isi kesepakatan tersebut ialah:

  1. Mengadakan gencatan senjata selama 10 tahun.
  2. Setiap orang dari kedua kubu bebas memilih untuk bergabung atau menjalin perjanjian satu sama lain.
  3. Barang siapa ingin bergabung dengan Nabi tanpa alasan yang dibenarkan, harus dicegah dan dikembalikan kepada walinya. Jika pengikut Nabi hendak bergabung dengan kaum kafir Quraisy harap dibenarkan.
  4. Rombongan umat muslim pada tahun in harus kembali ke Madinah. Dan boleh berhaji pada tahun berikutnya. Dilarang membawa senjata dan waktu berhaji tidak boleh lebih dari 3 hari.

Fathu Makkah

Dua tahun setelah Perjanjian Hudaibiyah berlangsung, suatu persengketaan yang melibatkan kedua kubu muncul.

Kaum kafir Quraisy membantai suku Bani Bakar membantai suku Khuza’ah (sekutu umat muslim). Akibatnya, perjanjian Hudaibiyah yang disepakati dibatalkan.

Baca juga: Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Makkah

Karena batalnya gencatan senjata, Nabi dan 10.000 pasukannya  memasuki kota Makkah dari segala penjuru. Makkah akhirnya jatuh ke tangan umat muslim karena ketidakmampuan kaum kafir Quraisy melawan pasukan muslim,

Haji Wada’ (Tanda Berakhirnya Dakwah Nabi) Dan Wafat Nabi

Seiring waktu setelah Fathu Makkah pada tahun ke-10 H, karena merasa dakwah beliau telah sempurna, Nabi menunaikan haji yang terakhir (Haji Wada’) bersama umat muslim. Dua bulan setelah pelaksanaan haji ini, Nabi jatuh sakit dan wafat setelah 11 hari sakit.

Nabi Muhammad wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 H, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 M dalam usia 63 tahun.

Bagikan Artikel melalui :