Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Makkah

Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai perjuangan dakwah nabi muhammad periode makkah.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu keturunan Bani Hasyim yakni salah satu kabilah dalam suku Quraisy. Beliau lahir di Makkah pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal atau tanggal 20 April 571 M,

Kepribadian baik Muhammad SAW dan sifat terpuji beliau merupakan hasil dari pendidikan keluarga beliau yang baik.

Muhammad SAW adalah laki-laki yang terkenal dengan sifatnya yang amanah, jujur, dan dapat dipercaya. Karena itu, Muhammad SAW mendapat gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya).

Muhammad SAW Menjadi Nabi

Menjelang usia 40 tahun, Muhammad SAW sering menyendiri dan bertafakkur di Gua Hira. Hingga pada akhirnya pada malam ke-17 Ramadhan bertepatan tanggal 6 Agustus tahun 610 M atas perintah Allah, malaikat Jibril menyampaikan kepada beliau wahyu yang pertama yakni surat Al-Alaq ayat 1-5. Dengan turunnya wahyu pertama itulah Allah memilih Muhammad SAW menjadi nabi dan rasul-Nya.

Baca: Beriman Kepada Malaikat (Pengertian, Sifat, Hikmah, dan Contoh Perilaku)

Langkah Dakwah Nabi Muhammad

dakwah

Dakwah Nabi Secara Sembunyi-Sembunyi

Malaikat Jibril menemui Rasulullah untuk menyampaikan wahyu kedua kepada Rasulullah SAW yakni surah Al-Mudatsir ayat 1-7 yang berisi perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah menyebarkan kebenaran agama Islam.

Langkah pertama Nabi Muhammad dalam dakwahnya di Makkah ialah berdakwah secara diam-diam di lingkungan keluarga terdekat.

وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبيْنَ
Artinya: Dan berilah peringatan untuk kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat. (QS. As-Syu’ara’ ayat 214)

Melalui wahyu ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memberi peringatan kepada kerabat Nabi terlebih dahulu, agar nantinya tidak ada kesalahpahaman bahwa Nabi tidak tegas atau pilih kasih kepada kerabat terdekatnya. Nantinya dakwah beliau akan lebih dipedulikan oleh orang lain yang dihadapinya jika beliau benar-benar tegas dan tidak pilih kasih kepada kerabatnya.

Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad periode makkah pertama diterima oleh istrinya.

Istri Nabi, Siti Khadijah adalah orang yang pertama menerima dakwah Nabi dari golongan keluarga. Diikuti sepupu Nabi Ali bin Abi Thalib dan sahabat karib Nabi Abu Bakar. Kemudian anak angkat Nabi Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman pengasuh Nabi.

Kemudian melalui Abu Bakar, sahabat Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah masuk Islam.

Disusul Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Salamah bin Abdu Al-Asad, Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, dan beberapa penduduk Makkah dari Kabilah Quraisy lainnya. Mereka dikenal sebagai As-Sabiquunal Awwaluun, yakni orang-orang pertama pemeluk agama Islam.

Dakwah Nabi Secara Terbuka

Islam menjadi perbincangan hangat setelah banyaknya kalangan yang menjadi muallaf,. Kemudian Allah memberikan perintah kepada Rasulullah agar berdakwah secara terang-terangan.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُوَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

Artinya: Sampaikanlah (Muhammad) secara terbuka semua yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (QS. Al-Hijr ayat 94)

Saat Nabi memperlihatkan Islam secara terang-terangan, Nabi mengajak masyarakat Quraisy untuk menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Banyak dari mereka yang mengecam dan menentang ajaran Islam yang dibawa beliau, termasuk juga paman beliau Abu Lahab dan istrinya.

Abu Thalib sebagai paman Nabi menaruh simpati, melindungi, dan berdiri di pihak keponakan yang disayanginya tersebut. Sedangkan Nabi tetap tegar menyebarkan Islam tanpa bisa dicegah oleh suatu apapun.

Kaum kafir Quraisy yang tak kunjung berhasil menghalangi dakwah Nabi dan ancaman untuk Nabi yang selalu gagal, mereka menemukan cara baru untuk melumpuhkan kekuatan Nabi.

Bani Hasyim yang saat itu melindungi Nabi diboikot oleh Kaum Kafir Quraisy. Mereka dengan segala cara memutus segala bentuk hubungan dengan umat muslim dan Bani Hasyim dengan menandatangani bersama piagam yang isinya tidak ada satupun penduduk Makkah yang boleh melakukan hubungan jual beli dengan umat muslim dan Bani Hasyim.

Akibatnya, seluruh umat muslim dan Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Kemudian beberapa pemimpin Quraisy yang merasa iba, merobek piagam tertulis tersebut.Dan pemboikotan yang berjalan hampir 3 tahun tersebut berakhir.
(Sumber : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Terj. Fadhli Bahri, Lc., Cetakan I, Jakarta: Darul Falah, 2000).

Strategi Perjuangan Dakwah Nabi Di Makkah

Strategi Perjuangan Dakwah Nabi Di Makkah

Hijrah ke Habsyi I

Situasi sosial politik yang memanas dan penyiksaan kaum kafir Quraisy yang keji terhadap muslim membuat keadaan tidak menguntungkan bagi dakwah Islam. Nabi memberi saran kepada para sahabat untuk hijrah ke Habsyi. Raja Nejus menyambut baik kedatangan muslim ke Habsyi dan memberi mereka perlindungan serta kebebasan dalam beribadah.

Nabi yang berada di Makkah saat itu mampu mempengaruhi beberapa tokoh Quraisy seperti paman beliau Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab menyatakan keislamannya.

Hijrah ke Habsyi II

Setelah hijrah ke Habsyi yang pertama berlangsung 2 tahun, umat muslim kembali ke Makkah. Kaum kafir Quraisy semakin geram melihat umat muslim mendapat perlindungan di Habsyi dan semakin banyaknya jumlah mereka. Karena itulah mereka memperkuat penganiayaan terhadap muslim. Hal inilah yang melatarbelakangi muslim untuk hijrah ke Habsyi kali kedua.

Kedatangan umat Islam ke Habsyi kali ini masih mendapat sambutan baik dari Raja Nejus. Namun, kebaikan hati Raja Nejus ini membuat marah kaum kafir Quraisy. Untuk itu mereka mengirim ‘Amr bin Al-‘Ash dan Abdullah bin Rabiah sebagai utusan untuk memohon Raja Nejus mengembalikan umat muslim ke Makkah.

Melihat keseriusan kaum kafir Quraisy, Raja Nejus mengumpulkan utusan dari kedua kubu dan meminta penjelasan dari keduanya. Umat muslim memilih Ja’far bin Abi Thalib sebagai juru bicara. Mengetahui ajaran Islam tidak bertentangan dengan agama yang dianut sang Raja, akhirnya Raja menolak permintaan kaum kafir dan Raja tersebut masuk Islam.

Misi ke Thaif

Tahun ke-10 Kenabian merupakan tahun duka bagi Nabi, pasalnya dua orang terkasih Nabi di tahun ini meninggal dunia, istri Nabi yakni Siti Khadijah, dan paman Beliau Abu Thalib. Kepergian dua pembela dan pelindung kuat Nabi ini, membuat kaum kafir Quraisy semakin berani mengganggu dan menyakiti Nabi.

Nabi dan Zaid pergi ke Thaif untuk meminta bantuan serta perlindungan dari kerabatnya yang menjadi penguasa, yakni Kinanah (Abu Jalail) dan Mas’ud (Abu Kuhal). Misi ini gagal karena sesampainya di Thaif, mereka tidak ingin memberi bantuan dan justru diusir dan dihina. Alasannya karena mereka tidak ingin mengambil resiko akan mendapat perlakuan buruk dari masyarakat Makkah.

Perjanjian Aqabah

Pada tahun ke-12 Kenabian, Nabi Muhammad menyampaikan dakwahnya kepada rombongan haji dari Yatsrib (Madinah). Seruan itu disambut hangat oleh mereka dan mereka masuk Islam. Pertemuan itu terjadi di bukit Aqabah. Disini mereka mengikat perjanjian dengan Nabi, dan dikenal sebagai Perjanjian Aqabah I, yang isinya antara lain:

  1. Menyatakan setia kepada Nabi.
  2. Berjanji rela berkorban harta dan jiwa.
  3. Bersedia ikut membantu menyebarkan ajaran Islam.
  4. Menyatakan tidak akan menyekutukan Allah.
  5. Menyatakan tidak akan membunuh.
  6. Berjanji tidak akan melakukan kecurangan dan kedustaan.

Saat rombongan akan kembali ke Yatsrib, Nabi mengutus sahabat Mush’ab bin Umair untuk membantu mereka menyebarkan ajaran Islam di Yatsrib, sehingga dalam waktu singkat Islam mampu berkembang.

Pada tahun ke-13 Kenabian, jamaah Yatsrib datang kembali ke Makkah untuk berhaji. Setibanya di sana mereka menemui Nabi. Dan atas nama penduduk Yatsrib mereka meminta Nabi Muhammad untuk datang ke Yatsrib dan memberikan penerangan tentang ajaran Islam. Nabi mengabulkan permohonan tersebut, dan untuk memperkuat kesepakatan, mereka mengadakan perjanjian kembali di Bukit Aqabah.

Perjanjian ini dikenal sebagai Perjanjian Aqabah II, yang isinya ialah bahwa penduduk Yatsrib:

  1. Siap sedia melindungi Nabi Muhammad dan umat muslim Makkah.
  2. Wajib ikut berjuang membela Islam dengan harta dan jiwa.
  3. Harus ikut serta dalam memajukan Islam dan menyiarkan Islam kepada kerabat-kerabatnya.
  4. Bersedia menerima semua resiko dan tantangan yang akan terjadi.

Dengan perjanjian ini terbukalah harapan Nabi untuk memperoleh kemenangan dalam dakwahnya. Dan sebab inilah Nabi juga memerintahkan umat muslim berhijrah ke Yatsrib (Madinah) agar terbebas dari kedzaliman kafir Quraisy.

Demikian penjelasan mengenai Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad periode makkah. Semoga bermanfaat.

Bagikan Artikel melalui :