Perubahan Iklim – Jika kita perhatikan dengan seksama, akhir-akhir ini media massa sering kali memberitakan berbagai fenomena alam yang terjadi di hampir seluruh bagian dunia.

Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) tahun 2020, kejadian bencana tahunan di Indonesia cenderung meningkat sepanjang dekade 2010-2020. Dan puncaknya terjadi pada tahun 2019 dimana terdapat 3.814 kejadian bencana.

Umumnya bencana yang terjadi selama satu dekade terakhir ialah bencana hidrometeorologi atau bencana yang berkaitan dengan perubahan kondisi iklim dan cuaca seperti banjir, tanah longsor hingga puting beliung.

Namun, sadarkah kita bahwa akhir-akhir ini berbagai fenomena alam ini justru terjadi tidak sesuai musimnya? Di Indonesia sendiri, kita bisa melihat banjir di berbagai daerah Kalimantan beberapa kali justru terjadi di musim kemarau.

Di belahan dunia lain seperti yang terjadi di Jerman pertengahan Juli  2021 lalu, banjir bandang  juga terjadi di musim panas. Selain itu, gelombang panas ekstrem juga mengakibatkan kebakaran hutan di Yunani dan Turki awal Agustus kemarin. Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi?

Apa Itu Perubahan Iklim?

Pakar menyebutkan bahwa tren bencana alam yang terjadi dan terus meningkat tiap tahunnya ini sebagai akibat dari perubahan iklim yang juga diperparah oleh ulah manusia sendiri. Lalu, apa itu perubahan iklim?

Menurut Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim atau UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) oleh PBB, perubahan iklim ialah perubahan dari iklim yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan berubahnya komposisi atmosfer secara global dan unsur iklim alami pada jangka waktu tertentu.

Parameter perubahan iklim sendiri antara lain adalah suhu udara dan curah hujan yang terjadi dalam periode waktu dasawarsa hingga jutaan tahun.

Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis. Iklim tropis ini menyebabkan Indonesia hanya memiliki 2 musim, yakni musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan di Indonesia biasanya terjadi mulai bulan Oktober hingga bulan April. Dan musim kemarau terjadi pada bulan Mei hingga bulan September.

Namun, perubahan iklim meyebabkan ketidakpastian kapan lamanya musim akan berganti. Bayangkan saja, hujan deras dan banjir masih melanda beberapa daerah di Kalimantan saat seharusnya wilayah Indonesia mengalami musim kemarau.

Penyebab Perubahan Iklim

Penyebab Perubahan Iklim

Apa saja hal yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan iklim? Sebenarnya, terjadinya perubahan iklim merupakan dampak dari adanya pemanasan global. Yakni terjadinya peningkatan konsentrasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), nitrogen dioksida (N₂O), metana (CH₄), Cloro Fluro Carbon (CFC), Ozon (O₃) pada atmosfer bumi. Kemudian, bagaimana pemanasan global bisa terjadi? Berikut beberapa faktor penyebabnya.

1. Proses Indutrialisasi dan Pembakaran Bahan Bakar Fosil

Kita tahu bahwa penduduk dunia selalu meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan penduduk ini juga berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan pokok hidup seperti kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia akan melakukan berbagai upaya antara lain mendirikan pabrik industri untuk menciptakan produk-produk kebutuhan hidup.

Dalam proses produksinya, pabrik industri seringkali memanfaatkan bahan bakar fosil seperti  gas alam, minyak bumi, hingga batu bara. Perlu kita tahu, penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya sudah berlangsung sejak era revolusi industri tahu 1870-an. Dan tentu saja penggunaannya semakin meningkat seiring masa.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga memanfaatkan bahan bakar fosil sebagai energi untuk berbagai kendaraan transportasi.Dari kegiatan pembakaran energi fosil inilah sejumlah gas emisi tercipta dan memenuhi atmosfer bumi. Gas emisi ini menimbulkan efek seperti rumah kaca sehingga biasa kita sebut sebagai gas rumah kaca.

Gas emisi rumah kaca sebenarnya berperan menghambat lepasnya energi panas bumi  ke luar angkasa dan menjaga bumi agar tetap hangat. Namun, aktivitas industri dan manusia yang semakin padat mengganggu proses alami dan menjadikan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer semakin tinggi. Sehingga berakibat pada terperangkapnya energi panas di atmosfer semakin meningkat dan suhu permukaan bumi menjadi semakin panas. Hal itulah yang kita kenal sebagai pemanasan global.

2. Penggundulan Hutan dan Perubahan Tata Guna Lahan

Untuk mencukupi kebutuhannya, manusia juga melakukan penebangan hutan. Manusia memanfaatkan hutan dan mengubahnya menjadi area produktif untuk pertanian, perkebunan, dan juga pemukiman. Penebangan pohon yang tidak diimbangi dengan reboisasi akan mengganggu proses fotosintesis.

Pengertian Fotosintesis secara Lengkap

Proses fotosintesis pada tumbuhan menggunakan karbon dioksida dan air kemudian menghasilkan oksigen yang bermanfaat untuk kehidupan manusia dan hewan.

Karena itu, berkurangnya pohon di hutan berperan pada peningkatan jumlah karbon dan gas emisi rumah kaca dan semakin memperparah pemanasan global. Penebangan pohon juga berdampak pada banyaknya bencana alam seperti banjir atau tanah longsor yang terjadi.

3. Kegiatan Pertanian dan Peternakan

Sektor pertanian dan peternakan juga membawa dampak pada peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia pada pertanian juga melepaskan gas nitrogen dioksida (N₂O) ke atmosfer. Pembakaran sisa-sisa pertanian yang membusuk dan pembakaran padang sabana juga merupakan sumber gas rumah kaca.

Kotoran ternak yang membusuk juga melepaskan gas metana (CH₄) ke atmosfer. Setiap 1 kg kotoran ternak akan melepaskan sekitar 230 liter gas metana.

4. Penggunaan Chloro fluro Carbon (CFC) pada lemari es dan AC.

Salah satu gas yang terdapat di atmosfer bumi ialah CFC. CFC  terdapat dalam AC ruangan dan lemari es dan merupakan zat yang tidak mudah terbakar. Karenanya satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun di atmosfer sebelum hilang. Penggunaan CFC secara berlebihan ini berdampak pada kerusakan lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi panas matahari.

Dampak Perubahan iklim

Dampak Perubahan iklim

Ada sebab ada pula akibat. Perubahan iklim tentu saja membawa dampak besar bagi makhluk hidup dan juga alam. Antara lain sebagai berikut.

1. Kenaikan Temperatur dan Berubahnya Musim

World Meteorologcal Organization (WMO) memperkirakan kenaikan suhu bumi akan terjadi beberapa tahun mendatang. Suhu global rata-rata mengalami peningkatan 1˚C setiap tahunnya setelah periode pra-industri  (1850-1900). Menurut BMKG Indonesia, rentang tahun 2014-2019 kenaikan suhu bumi rata- rata sudah lebih dari  1˚C.

Periode tersebut juga menjadi periode lima tahun terhangat dalam catatan meteorologi. Peningkatan suhu juga berpengaruh terhadap pola curah hujan. Di sebagian daerah curah hujan akan meningkat dan mengakibatkan banjir atau tanah longsor. Sementara di beberapa daerah lain curah hujan justru menurun dan menyebabkan kekeringan.

2. Naiknya Permukaan Air Laut

Suhu udara yang memanas menyebabkan mencairnya lapisan es di wilayah kutub.  Karenanya permukaan air laut terus mengalami kenaikan. Menurut NOAA Global Climate Map, rata-rata permukaan air laut  meningkat 3,1 mm per tahunnya.

Naiknya permukaan air laut ini menyebabkan garis pantai mengalami kemunduran dan tenggelamnya pemukiman penduduk di daerah pesisir pantai. Banjir air laut juga menyebabkan tambak-tambak ikan tenggelam, sehingga banyak para petani tambak ikan di pesisir yang kehilangan mata pencahariannya.

3. Meningkatnya Berbagai Wabah Penyakit

Naiknya suhu udara menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek sehingga nyamuk-nyamuk penyakit juga berkembang biak lebih cepat. Balita, anak-anak, dan lansia akan mudah terserang penyakit demam berdarah hingga malaria.

Selain itu, kekeringan ekstrem yang mengakibatkan kebakaran hutan juga mengakibatkan buruknya kualitas udara yang dihirup dan menjadikan penduduk sekitar rentan mengalami gangguan pernapasan.

4. Kerugian Materi

Eksploitasi hasil tambang dan hutan besar-besaran menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim semakin tak terkendali dan ancaman bencana alam seperti banjir bandang, tanah longsor, kekeringan terus membayangi. Jika itu terjadi, artinya negara harus mengeluarkan banyak biaya untuk menekan kerugian akibat perubahan iklim yang terjadi.

Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

Terkait perubahan iklim yang terjadi secara global, pemerintah Indonesia bersama 170 negara lain di dunia melakukan penandatanganan Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim pada tahun 2015. Mereka berkomitmen untuk menghentikan suhu bumi agar tidak melebihi 2°C.

Sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Paris tersebut,  pemerintah Indonesia mengeluarkan UU No.16 tahun 2016 tentang pengesahan Perjanjian Iklim Paris. Pemerintah Indonesia menetapkan target penurunan gas emisi rumah kaca hingga 2030 sebesar 29% dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional.

Untuk mencapai target tersebut pemerintah mulai melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan mengurangi dampak perubahan iklim antara lain seperti rehabilitasi hutan dan lahan, pengembangan energi baru terbarukan, penggunaan pupuk organik, penghapusan bahan perusak ozon hingga menyusun rencana aksi nasional adaptasi perubahan iklim di 15 wilayah percontohan.

Namun, upaya penanganan perubahan iklim sejatinya bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan berbagai pihak. Agar lebih efektif, upaya tersebut juga memerlukan peran aktif dari dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga seluruh lapisan masyarakat.

Skenario Iklim

Kita sebagai bagian dari lapisan masyarakat dan alam juga bisa mendukung upaya pemerintah melalui upaya perubahan pada diri kita sendiri, antara lain dengan cara beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menjadi kendaraan umum, bersepeda atau berjalan kaki.

Kita bisa mengurangi penggunaan plastik mulai dari membawa botol minum sendiri saat berpergian. Menghemat penggunaan energi listrik di rumah, membuang sampah pada tempatnya, menggolongkan sampah sesuai jenisnya dan tidak membakarnya. Kita juga bisa mengusahakan untuk mulai menanam pohon di pekarangan rumah.

Nah guys sebagai sesama makhluk hidup yang saling bergantung, kita membutuhkan alam untuk keberlangsungan kehidupan. Begitu pula alam yang membutuhkan kita untuk merawat dan menjaganya. Di tengah kondisi alam yang terus berubah dan kian memprihatinkan, alam membutuhkan pertanggung jawaban kita atas kerusakan yang turut kita timbulkan.

Jika kita tidak bertindak mulai sekarang, mungkin seiring waktu dampak kerusakannya akan lebih buruk lagi. Mulai dari diri sendiri kita harus berani berbenah mengubah pola hidup kita dalam memperlakukan lingkungan hingga dalam penggunaan energi. Sehingga nantinya kita bisa mengurangi besaran gas rumah kaca yang kita sumbangkan ke atmosfer bumi.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia