Proses Produksi Kain Sutra

Diposting pada

Dari banyaknya macam-macam bahan pembuatan pakaian, pernahkah kalian mendengar tentang kain sutra?, bagaimana proses produksi kain sutra?, yuk kita bahas…

Tekstur kain ini banyak digemari karena memiliki tekstur yang halus, lembut, serta tampak gemerlap membuat banyak orang jatuh hati ingin memakainya.

Nah, Kain sutra ini berasal dari kepompong ulat sutra. Jenis kain sutra yang paling umum digunakan berasal dari kepompong ulat sutra murbei atau Bombyx Mori. Biasanya, ulat sutra murbei ini dibudidayakan oleh para pengrajin kain sutra.

Sejarah Kain Sutra

Gambar Ulat Sutra dan Kepompong Sutra

Kemudian seiring zaman dan semakin berlanjutnya usaha dan kepandaian manusia, semakin maju pula cara mereka memproduksi pakaian mereka sendiri. Manusia mulai memintal benang dari bulu domba. Kemudian dari benang mereka menenunnya hingga menjadi sebuah kain.

Seiring waktu pula, manusia juga mulai memanfaatkan buah kapas, serat nanas, serat pelepah pisang, maupun  bahan lain sebagai alternatif pengganti kulit binatang untuk dijadikannya sebagai bahan sandang.

Kemudian mereka menjemur kulit tersebut hingga kering, dan menjahitnya dengan jarum yang terbuat dari tulang sebelum memakainya.

Dahulu sekali, manusia membuat pakaiannya dengan menggunakan kulit binatang sebagai bahan utamanya. Dalam proses produksi kain sutra mereka menggunakan batu tajam untuk memperhalus kulit binatang tersebut.

Namun, tahukah kalian dari mana asal penggunaan kepompong ulat sutra menjadi bahan pakaian? Menurut sejarah, kain sutra ini berasal dari Cina antara 4000 hingga 3000 tahun sebelum masehi. Bukti awal penemuan sutra dapat kalian jumpai di situs budaya Yangshao, di  Shanxi, Provinsi Henan, Cina. Sekitar abad ke-27, bangsa Cina tidak hanya menggunakan sutra untuk pakaian saja, namun juga mengaplikasikannya ke dalam tulisan.

Nah, barulah pada abad ke-30 SM produksi kain sutra berkembang ke Jepang hingga ke Arab. Pada saat Perang Salib, produksi sutra mulai memasuki pasar Eropa Barat, khususnya Italia.

Produksi sutra sempat terhenti karena banyaknya wabah penyakit yang menyerang ulat sutra. Hingga pada akhirnya pada abad ke-20, Cina dan Jepang mulai memproduksi sutra kembali. Dan hingga kini, Cina menjadi negara produsen sutra terbesar di dunia.

Proses Produksi Kain Sutra Dari Kokon Ulat Sutra

Apakah kalian pernah memakai pakaian berbahan dasar sutra? Tahukah kalian kalau kain sutra memiliki daya serap air yang tinggi? Saat memakai kain sutra, kalian tidak akan merasa kegerahan.

Kalian juga tidak akan merasa kedinginan saat memakainya di tengah cuaca yang dingin. Lalu, bagaimana proses produksi kain sutra sendiri? Yuk simak penjelasannya.

1. Berawal dari telur kupu-kupu sutra

Gambar Kupu-Kupu Sutra

Sama seperti ulat lainnya, ulat sutra awalnya juga merupakan telur dari kupu-kupu sutra betina. Umumnya, peternak akan menyimpan telur-telur sutra tersebut di dalam ruangan penetasan telur yang gelap dan di letakkan dalam sebuah kotak selama lima hari sebelum akhirnya menetas menjadi ulat sutra.

2. Telur menetas dan keluar ulat sutra kecil

Kedua, setelah telur-telur menetas, peternak akan mengeluarkan ulat-ulat kecil dari kotak dan memindahkannya ke ruangan pemeliharaan ulat.

Di hari pertama hingga hari ketiga, ulat sutra kecil akan makan selama empat kali. Ulat sutra kecil hanya makan dengan menghisap air yang keluar dari daun murbei muda.

Di hari keempat, ulat sutra kecil ini akan tidur selama 24 jam. Kemudian, di hari kelima hingga ketujuh, ulat sutra akan makan lagi. 

Dan di hari kedelapan ulat sutra akan tidur lagi. Ulat sutra kecil akan melakukan kegiatan tersebut secara rutin hingga hari keempat belas.

3. Ulat sutra kecil menjadi ulat sutra dewasa

Gambar Ulat Sutra

Selanjutnya, setelah empat belas hari, ulat sutra kecil akan berubah menjadi ulat sutra dewasa. Ulat sutra dewasa memakan daun murbei hijau beserta ranting daunnya dan masa tidurnya bertambah menjadi dua hari. Setelah itu, ulat sutra dewasa akan makan terus selama sepuluh hari.

Supaya menghasilkan serat sutra yang baik, tempat tinggal ulat sutra harus tetap dalam keadaan bersih dan steril. Hal ini karena ulat sutra adalah salah satu hewan yang mudah mengalami stres dan sakit.

Ulat sutra tidak boleh terserang jamur, mendengar suara bising, terkena asap rokok, dan tidak boleh mencium bau parfum. Ketika sakit, tubuh ulat sutra akan mengeras dan terdapat serabut putih seperti kapas. Wah, cukup sensitif juga ya ulatnya.

4. Ulat sutra akan membuat kokon atau kepompong

Gambar Kepompong Ulat Sutra

Tahap selanjutnya setelah masa 30 hari, ulat sutra akan mengeluarkan cairan dari mulutnya. Cairan inilah yang menandai bahwa ulat sutra sudah siap menjadi kokon atau kepompong ulat sutra.

Proses ulat sutra menjadi kepompong ini terjadi selama tiga hari, untuk kemudian dibiarkan selama seminggu sebelum dipanen. Saat menjadi kepompong, ulat sutra akan mengeluarkan sekitar 800-1200 meter benang yang sangat tipis.

5. Pengolahan kepompong menjadi kain sutra

Gambar Beberapa Hasil Produksi Kain Sutra

Kepompong sutra yang telah dipanen harus direbus dahulu di air mendidih selama 1 hingga 2 menit agar larva ulat di dalam kepompong mati dan agar zat perekat yang ada pada kepompong hilang sehingga memudahkan proses penguraian seratnya.

Kepompong tersebutlah yang akan dipintal menjadi benang. Kemudian dari benang tersebut, pengrajin melakukan proses penenunan benang menjadi lembaran kain.

Untuk menghasilkan satu kilogram benang sutra, pengrajin sutra butuh tujuh kilogram kokon atau kepompong yang berasal dari tujuh ribu ekor ulat sutra.

Kepompong sutra itu kemudian akan dipintal menjadi benang mentah dan diberi pewarna. Dari satu kilogram benang sutra tersebut, akan menghasilkan kain sutra sepanjang lima meter dengan berbagai macam corak dan warnanya.

Gimana guys? Proses produksi kain sutra ternyata tak sesederhana yang kita kira ya. Para pengrajin butuh banyak biaya dan waktu yang lama untuk pemeliharaan ulat sutra, hingga proses pemintalan kepompong menjadi benang dan kain sutra yang berkualitas. Jadi, wajar saja jika harga satu meter kain sutra lebih mahal dari harga satu meter kain lainnya. Jelas dong, ada harga pasti ada rupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.